Porto kota berbukit yang unik dan ramah

  gunawan widjaja   Artikel


Rua-de-Santa-Catarina-Porto-PortugalAmat berat hati untuk melangkah pergi meninggalkan kota Lisbon yang saya rasakan antara yang terindah di Eropa. Saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke utara Semenanjung Iberia ini menuju ke Porto. Dari stasiun Oriente di Vasco Da Gama Centre saya dan rombongan menenaiki kereta pagi karena harus sampai sebelum tengah hari untuk makan siang. Perjalanan kereta ini mengambil waktu sekitar 3 jam.

Tidak seperti perjalanan dari Faro ke Lisbon yang membosankan, rute kereta ke utara dari Lisbon ke Porto sangat cantik karena melalui jalan sepanjang pantai. Stasiun kereta terakhir di Porto adalah Sao Bento di pusat kota. Bus pariwisata saya telah menunggu di parkiran, saya beserta rombongan di jemput oleh seorang assisten (Anna) yang mengantar kami ke menuju parkiran bus dan melanjutkan ke restorant untuk makan siang.

Setelah semua rombongan lengkap dan masuk kedalam bus, supir kami yang ramah dan berbahasa inggris yang lumayan bagus (Mr.Mario) langsung tancap gas menuju restorant karena perut sudah tidak bisa untuk diajak kompromi, di dalam bus Anna menjelaskan kepada saya panjang lebar tempat yang harus saya kunjungi di Porto termasuk memberikan selembar peta kota Porto. Kota Porto adalah kota kedua terbesar di Portugal setelah Lisbon yang terbagi kepada 2 bagian yang dipisahkan oleh Sungai Douro. Ada 4 buah jembatan yang menghubungi kedua bagian kota ini dan Porto juga sering disebut sebagai Cidade das Pontes (City of Bridges).

Setelah mendengar cerita Anna, persepsi saya terhadap Porto berubah. Selama ini saya mengenal Porto hanya pada sebuah klubCicades sepakbola FC Porto karena FC Porto adalah klub sepakbola yang ternama bukan saja di Portugal dan benua Eropa tetapi juga di dunia. Porto adalah kota tertua di Eropa dan telah diakui oleh UNESCO World Heritage Site pada tahun 1996 karena ada banyak tempat bersejarah di kota ini. Kota ini menyediakan 6 rute untuk layanan metro (subway dan tram) di dalam kota hingga ke Francisco Sa Carneiro Airport yang terletak 15 km di barat laut Porto, jadi ingat Jakarta yang sedang mempersiapkan moda transportasi berbasis Rel yang bisa tembus sampai ke Airport.

Keunikan kota Porto adalah pada bentuk tekstur tanahnya yang berbukit dan sungai Douro yang membelah ditengah-tengah kota ini. Berjalan kaki di kota ini sangat menarik tetapi torre-clerigosmembutuhkan energi yang banyak. Di pusat kota, terdapat berbagai gedung tua yang menjadi karakter khas Porto, diantaranya gereja Clerigos yang berada dipuncak bukit dan menara jam locengnya yang bernama Torre dos Clerigos jelas terlihat dari berbagai sudut kota Porto. Menara jam ini adalah ikon utama dalam banyak promosi pariwisata kota Porto. Gereja Clerigos dikembangkan dengan gaya Baroque yang sangat populer di Italia pada abad ke 16 dan menyebar ke seluruh benua Eropa. Gaya artistik Baroque mendapat dukungan dari Gereja Katolik Roma di Roma dan telah menjadi fitur khusus kebanyakan gereja Katolik Roma di Eropa. Bahkan gereja ini juga dibangunkan oleh arsitek dari Italia bernama Nicolau Nasoni. Tempat ini tidak jauh dari stasiun kereta Sao Bento dan bisa berjalan kaki menaiki puncak bukit. Meskipun ada layanan tram ke sana, tetapi saya dan rombongan lebih suka berjalan karena disepanjang jalan ada banyak toko-toko souvenir yang menjadi kesukaan turis untuk oleh -oleh dan juga gedung-gedung tua yang sangat anggun.

Dibawah bukit antara stasiun Sao Bento dan gereja Clerigos ada sebuah tugu King Peter IV di Liberdade Square atau disebut AvenidaFreedom Square. Dataran inilah permulaan Avenida dos Aliados yaitu sebuah jalan yang paling penting dikota Porto. Di jalan ini terletak Porto City Hall dengan arsitek yang unik. Menuruni bukit melalui Sao Bento dan kemudian mendaki kembali ke puncak bukit saya menemukan Episcopal Palace of Porto yaitu tempat dimana para uskup tinggal suatu waktu dulu sebelum mendapatkan tugas misi.

Dari situ saya berjalan melintasi Sungai Douro melalui Jembatan Luiz I ke Gaia yaitu di bagian selatan kota Porto. Gaia juga terkenal sebagai tempat memproses anggur. Jembatan Luiz I adalah antara atraksi utama di Sungai Douro. Jembatan ini selesai dibangun pada tahun 1886 dan pembangunannya adalah kerjasama dengan Gustav Eiffel. Oleh sebab itu karakter jembatan Luiz I seperti menara Eiffel Tower, jelas terlihat pada jembatan ini yang menggunakan kerangka besi baja. Jembatan ini memiliki dua tingkat yaitu bagian bawah sebagai lalu lintas kendaraan dan di bagian atas dikhususkan untuk rute tram. Pejalan kaki bisa menggunakan kedua rute ini. Tersedia juga funicular dari bagian bawah jembatan untuk naik ke bagian atas atau bagi yang kuat staminanya bisa mendaki melalui lorong-lorang sempit di celah-celah rumah penduduk disekitar tebing Sungai Douro.

Di sepanjang tepian Sungai Douro di kenali sebagai Ribeira. Permandangan di Ribiera adalah yang paling cantik dan menarik di RiberiaPorto. Gabungan antara jembatan, sungai, tebing tinggi dan gedung-gedung tua menjadikan daerah Ribeira sebagai lokasi yang harus di kunjungi. Di tebing Sungai Douro di sebelah Gaia ada ‘cable car’ yang menuruni ke tepi sungai dari puncak bukit di Gaia. Aktivitas yang kami lakukan di Ribeira adalah ‘river crusie’ yang melalui bawah 4 buah jembatan dan kemudian ke muara Sungai Douro yang terhubung dengan Samudra Atlantik. Saya dan rombongan sangat menikmati keindahan Ribeira hingga matahari terbenam di ufuk barat Samudra Atlantik.

Selain menikmati keindahan kota Porto, saya dan rombongan juga sempat ke Stadion of Dragon (Estadio do Dragoa) yaitu ‘homeground’ untuk FC Porto. Memang itulah tujuan utama rombongan group saya ke Porto. Selain stadion ada mal Dolce Vita yang besar di sebelahnya. Tidak ada pertandingan sepakbola ketika saya dan rombongan ke sana, hanya melihat-lihat stadion dan membeli souvenir di ‘FC Porto Shop’. Selebihnya saya dan rombongan menghabiskan waktu berjalan-jalan dan melihat barang-barang di mal Dolce Vita dan juga makan siang. Selain sepakbola, kota Porto juga pernah terkenal dengan lomba Porto-stadium-of-the-dragon9mobil Formula One. Kota Porto pernah dijadikan sirkuit Formula One di tahun 1958 dan 1960 yang dinamakan Circuito da Boavista. Sirkuit ini dibuat ditengah-tengah kota Porto sama seperti ‘street circuit’ di Monako, Velencia dan juga Marina Bay Singapore.

Dalam waktu 3 hari saya dan rombongan telah habis berjalan melihat-lihat kota Porto. Saya dan rombongan menuju ke pantai diluar pusat kota Porto. Sepuluh kilometer dari kota Porto terdapat sebuah kota kecil dekat pantai yang disebut Matosinhos. Ada beberapa monumen menarik disini selain dari pantai yang menghadap Samudra Atlantik. Castelo Do Queijo adalah sebuah benteng yang didirikan ditepi pantai. Di tengah-tengah ’roundabaout’ di Matosinhos, Anda akan terlihat sebuah sculpture besar yang di namakan ‘She Changes’.Matosinhos Dari Matosinhos saya dan rombongan kembali ke hotel untuk check-out karena pesawat saya dan rombongan akan berangkat dari Bandara Porto jam 18.30 sore ke Barcelona. Meskipun saya dan rombongan harus check-out jam 12 siang tapi pengelola hotel mengijinkan saya dan rombongan keluar jam 3 sore. Saya dan rombongan bergegas menuju bandara yang memakan waktu sekitar 60 menit. Kenangan selama 3 hari di Portugal sangat berarti. Selain menikmati keindahan Portugal, saya dan rombongan juga dapat merasakan kehidupan dan keramahan masyarakat Portugis. Setiba nya di Bandara Porto kami semua berpamitan dengan pengemudi kami yang luar biasa ramah dan baik hati. OBRIGADO !!! SEE YOU AGAIN sahut mario dengan penuh canda dan semangat.